Kriteria Calon Raja Pajajaran Anyar?

Written By Gpnkoe on Saturday, September 8, 2012 | 9:19 PM

Kriteria Calon Raja Pajajaran Anyar?


Siapapun boleh mencalonkan dirinya menjadi raja, bila merasa layak, pantas, dan segudang argumentasi lainnya. Misalnya, ada wilayah kerajaannya yang kepala-kepala wilayahnya mendukung dia sebagai kandidat terkuat, ada rakyat yang diyakini bakal memilihnya, dan punya surat sakti dari sang raja sepuh. Itu kalau kerajaannya masih eksis, keratonnya masih kokoh berdiri. Tetapi, yang namanya kerajaan Pajajaran 'kan sudah berabad-abad lalu hilang, jadi ini lalu bagaimana urusannya?

Di sinilah duduk perkaranya!

Seorang calon raja di Kerajaan Pajajaran Anyar harus memenuhi 3 (tiga) kriteria yang yang satu sama lainnya saling melengkapi dan tidak bisa ditawar. Apa saja itu?

1. Dia harus memiliki trah (stamboom) garis keturunan langsung/asli. Mengapa?
2. Dia harus mewarisi ilmu yang mumpuni.( ILMU LADUNI ) Mengapa?
3. Dia harus memiliki dana independen. Mengapa?

Mari kita bahas satu persatu.

1. Dia harus memiliki trah (stamboom) garis keturunan langsung/asli.
Kalau penduduk Jawa Barat ada 40 juta jiwa, dan 30 juta di antaranya urang Sunda, maka mungkin hanya ribuan bahkan ratusan saja generasi masa kini yang merupakan garis keturunan dari Prabu Siliwangi. Dari jumlah tersebut, hanya beberapa yang merupakan garis keturunan langsung/asli, hanya beberapa gelintir saja yang 'dicirian' (baca: ditandai) oleh para karuhun untuk menjadi kandidat/calon kuat raja Pajajaran Anyar yang belum ada juntrungan bentuk fisiknya.

2. Dia harus mewarisi ilmu yang mumpuni.
Bagi siapa saja urang sunda yang sudah membaca Wangsit Siliwangi, ada dua point penting yang patut diingat sebagai"benchmark". Pertama, ucapan Sang Prabu: "tong ngalieuk ka tukang!", dan kedua, proses kepergian beliau yang fenomenal: tilem!
Tentu saja kita harus pisahkan/bedakan antara pengertian apa itu yang disebut ilmu dan apa pula itu yang disebut ilmu pengetahuan.
Kita harus bisa membayangkan perbandingan ilmu dalam konteks yang seperti halnya: pakar ilmu pengetahuan adalah seseorang yang bergelar doktor, spesialis, profesor, tetapi seseorang yang berilmu adalah yang bisa mengobati penyakit aneh-aneh, bisa terbang, bisa berjalan di atas air, bisa menjelma jadi ada dua-tiga sosok yang sama di waktu yang bersamaan di tempat/peristiwa yang berbeda. Disebut makin sakti bila bisa menghilang, bahkan mi'raj, dan lebih sakti lagi bila tatkala seseorang meninggal dunia maka sesaat sesudah dimakamkan malamnya jasadnya ngahiyang(menghilang). Lebih sakti lagi bila seseorang tilem (ngahiyang) justru pada saat diketahui belum meninggal.
Nah, bayangkan betapa tinggi ilmunya tatkala Prabu Siliwangi tilem, bukan hanya dirinya sendiri, tetapi tilem bersama para pengikut setianya bahkan keratonnya. Itulah kesaktian beliau:menggaibkan yang wujud!

Jadi maknanya adalah: barang siapa yang merasa dirinya layak, pantas menjadi Raja Pajajaran Anyar, adalah seseorang yang 'katitisan' (mewarisi kesaktian) Prabu Siliwangi dalam berbuat sebaliknya, yaitu mampu: mewujudkan yang gaib! Apa sajakah? Pertama, bisa membuktikan mampu membangun kembali keraton kerajaan Pajajaran Anyar, yang megah, anggun dan representatif, di tempat yang semestinya, dan keduanya bisa membuktikan dirinya terpilih/didaulat oleh rakyat Pajajaran Anyar karena rasa terima kasih mereka kepada dia yang telah berbuat karya nyata mampu mengangkat mereka dari kemiskinan dan kebodohan, terasa bantuannya dalam meningkatkan kesejahteraan mereka, dan terasa sugestinya meningkatkan harkat, derajat dan kehormatan peri kehidupan mereka.

3. Dia harus memiliki dana independen.
Membangun keraton tentu bukan membangun rumah. Jauh sekali bedanya. Tentu lebih akbar dan agung betapa pun rumahnya lux atau halamannya luas. Demikian pula membangun perekonomian rakyat hingga bisa maju, modern dan mandiri tentu bukan hanya berupa ritual memberi santunan bagi yang terkena musibah, atau menyumbang panti asuhan atau masjid atau pun mendirikan dapur umum tatkala ada musibah. Tentu lebih luas dan lebih sistemik dari itu, mendirikan Bank Desa semacam Grameen Bank beserta jaringan pelayanan modal dan technical know-how bagi para petani-pedagang-pelaut (nelayan). Nah, semuanya itu tentu saja perlu dana yang amat besar, bukan?
Alangkah sangat tidak lucunya seseorang yang merasa dirinya layak dan pantas menjadi Raja Pajajaran Anyar bila untuk membangun keraton dan memodali perekonomian rakyat harus menunggu bantuan Pemerintah Indonesia atau Pemerintah Propinsi Jawa Barat, bahkan lebih fatal bila hanya untuk upacara seremonial pelantikan raja pun menunggu kucuran dana sponsor.
Seorang calon Raja Pajajaran Anyar harus terbukti merupakan rangkaian atau bagian dari asset dana dinasti yang amat besar, dlp. punya akses dan channelingdan/atau menjadi bagian tim pemegang dana amanah dunia.

Dari ketiga kriteria tersebut di atas (yaitu trah, ilmu, dan dana) maka mudah-mudahan sekarang menjadi jelas, mengapa sosok calon Raja Pajajaran Anyar yang asli dan haq sangat ditunggu-tunggu oleh para raja se-Nusantara yang berkumpul di Bandung, dan dicari-cari oleh para ponggawa Bretton Woods di lembaga-lembaga keuangan dunia dan para pemimpin negara-negara UE yang nyaris terseret mengalami krisis karena nyoba menolong rekannya Yunani yang hampir bangkrut.

Maka menjadi jelas juga, walaupun seseorang yang merasa dirinya layak menjadi Raja Pajajaran Anyar itu jelas-jelas punya trah, dan juga berilmu, tapi kalau seseorang itu tidak bisa punya otoritas dan akses ke dana amanah, maka percuma saja. Sebaliknya pun begitu, bisa saja seseorang yang tinggal di tatar sunda orangnya sekaya George Soros atau Bill Gates misalnya, tapi kalau tidak/bukan trah dan masih tembus santet bahkan takut hantu, ya sama juga bo'ong!Silahkan mundur teratur dan mawas diri saja!
9:19 PM | 1 comments | Read More

Kujang adalah sebuah senjata unik dari daerah Jawa Barat

Written By Gpnkoe on Friday, July 13, 2012 | 2:24 AM

Kujang adalah sebuah senjata unik dari daerah Jawa Barat. Kujang mulai dibuat sekitar abad ke-8 atau ke-9, terbuat dari besi, baja dan bahan pamor, panjangnya sekitar 20 sampai 25 cm dan beratnya sekitar 300 gram.

Kujang merupakan perkakas yang merefleksikan ketajaman dan daya kritis dalam kehidupan juga melambangkan kekuatan dan keberanian untuk melindungi hak dan kebenaran. Menjadi ciri khas, baik sebagai senjata, alat pertanian, perlambang, hiasan, ataupun cindera mata.

Menurut Sanghyang siksakanda ng karesian pupuh XVII, kujang adalah senjata kaum petani dan memiliki akar pada budaya pertanian masyarakat Sunda.

Kujang dikenal sebagai senjata tradisional masyarakat Jawa Barat (Sunda) yang memiliki nilai sakral serta mempunyai kekuatan magis. Beberapa peneliti[siapa?] menyatakan bahwa istilah "kujang" berasal dari kata kudihyang (kudi dan Hyang. Kujang (juga) berasal dari kata Ujang, yang berarti manusia atau manusa. Manusia yang sakti sebagaimana Prabu Siliwangi.

Kudi diambil dari bahasa Sunda Kuno yang artinya senjata yang mempunyai kekuatan gaib sakti, sebagai jimat, sebagai penolak bala, misalnya untuk menghalau musuh atau menghindari bahaya/penyakit[rujukan?]. Senjata ini juga disimpan sebagai pusaka, yang digunakan untuk melindungi rumah dari bahaya dengan meletakkannya di dalam sebuah peti atau tempat tertentu di dalam rumah atau dengan meletakkannya di atas tempat tidur (Hazeu, 1904 : 405-406). Sementara itu, Hyang dapat disejajarkan dengan pengertian Dewa dalam beberapa mitologi, namun bagi masyarakat Sunda Hyang mempunyai arti dan kedudukan di atas Dewa, hal ini tercermin di dalam ajaran “Dasa Prebakti” yang tercermin dalam naskah Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian disebutkan “Dewa bakti di Hyang”.

Secara umum, Kujang mempunyai pengertian sebagai pusaka yang mempunyai kekuatan tertentu yang berasal dari para dewa (=Hyang), dan sebagai sebuah senjata, sejak dahulu hingga saat ini Kujang menempati satu posisi yang sangat khusus di kalangan masyarakat Jawa Barat (Sunda). Sebagai lambang atau simbol dengan niali-nilai filosofis yang terkandung di dalamnya, Kujang dipakai sebagai salah satu estetika dalam beberapa lambang organisasi serta pemerintahan. Disamping itu, Kujang pun dipakai pula sebagai sebuah nama dari berbagai organisasi, kesatuan dan tentunya dipakai pula oleh Pemda Propinsi Jawa Barat.

Di masa lalu Kujang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Sunda karena fungsinya sebagai peralatan pertanian. Pernyataan ini tertera dalam naskah kuno Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian (1518 M) maupun tradisi lisan yang berkembang di beberapa daerah diantaranya di daerah Rancah, Ciamis. Bukti yang memperkuat pernyataan bahwa kujang sebagai peralatan berladang masih dapat kita saksikan hingga saat ini pada masyarakat Baduy, Banten dan Pancer Pangawinan di Sukabumi.

"Segala macam hasil tempaan, ada tiga macam yang berbeda. Senjata sang prabu ialah: pedang, abet (pecut), pamuk, golok, peso teundeut, keris. Raksasa yang dijadikan dewanya, karena digunakan untuk membunuh. Senjata orang tani ialah: kujang, baliung, patik, kored, pisau sadap. Detya yang dijadikan dewanya, karena digunakan untuk mengambil apa yang dapat dikecap dan diminum. Senjata sang pendeta ialah: kala katri, peso raut, peso dongdang, pangot, pakisi. Danawa yang dijadikan dewanya, karena digunakan untuk mengerat segala sesuatu, Itulah ketiga jenis

senjata yang berbeda pada sang prebu, pada petani, pada pendeta. Demikianlah bila kita ingin tahu semuanya, tanyalah pandai besi." — Sanghyang siksakanda ng karesian pupuh XVII.

Dengan perkembangan kemajuan, teknologi, budaya, sosial dan ekonomi masyarakat Sunda, Kujang pun mengalami perkembangan dan pergeseran bentuk, fungsi dan makna. Dari sebuah peralatan pertanian, kujang berkembang menjadi sebuah benda yang memiliki karakter tersendiri dan cenderung menjadi senjata yang bernilai simbolik dan sakral. Wujud baru kujang tersebut seperti yang kita kenal saat ini diperkirakan lahir antara abad 9 sampai abad 12.

Karakteristik sebuah kujang memiliki sisi tajaman dan nama bagian, antara lain : papatuk/congo (ujung kujang yang menyerupai panah), eluk/silih (lekukan pada bagian punggung), tadah (lengkungan menonjol pada bagian perut) dan mata (lubang kecil yang ditutupi logam emas dan perak). Selain bentuk karakteristik bahan kujang sangat unik cenderung tipis, bahannya bersifat kering, berpori dan banyak mengandung unsur logam alam.

Dalam Pantun Bogor sebagaimana dituturkan oleh Anis Djatisunda (996-2000), kujang memiliki beragam fungsi dan bentuk. Berdasarkan fungsi, kujang terbagi empat antara lain : Kujang Pusaka (lambang keagungan dan pelindungan keselamatan), Kujang Pakarang (untuk berperang), Kujang Pangarak (sebagai alat upacara) dan Kujang Pamangkas (sebagai alat berladang). Sedangkan berdasarkan bentuk bilah ada yang disebut Kujang Jago (menyerupai bentuk ayam jantan), Kujang Ciung (menyerupai burung ciung), Kujang Kuntul (menyerupai burung kuntul/bango), Kujang Badak (menyerupai badak), Kujang Naga (menyerupai binatang mitologi naga) dan Kujang Bangkong (menyerupai katak). Disamping itu terdapat pula tipologi bilah kujang berbentuk wayang kulit dengan tokoh wanita sebagai simbol kesuburan.
2:24 AM | 0 comments | Read More

Wangsit Prabu Siliwangi Raja Padjadjaran

Prabu Siliwangi berpesan pada warga Pajajaran yang ikut mundur pada waktu beliau sebelum menghilang :

“Perjalanan kita hanya sampai disini hari ini, walaupun kalian semua setia padaku! Tapi aku tidak boleh membawa kalian dalam masalah ini, membuat kalian susah, ikut merasakan miskin dan lapar. Kalian boleh memilih untuk hidup kedepan nanti, agar besok lusa, kalian hidup senang kaya raya dan bisa mendirikan lagi Pajajaran! Bukan Pajajaran saat ini tapi Pajajaran yang baru yang berdiri oleh perjalanan waktu! Pilih! aku tidak akan melarang, sebab untukku, tidak pantas jadi raja yang rakyatnya lapar dan miskin."

Dengarkan! Yang ingin tetap ikut denganku, cepat memisahkan diri ke selatan! Yang ingin kembali lagi ke kota yang ditinggalkan, cepat memisahkan diri ke utara! Yang ingin berbakti kepada raja yang sedang berkuasa, cepat memisahkan diri ke timur! Yang tidak ingin ikut siapa-siapa, cepat memisahkan diri ke barat!

Dengarkan! Kalian yang di timur harus tahu: Kekuasaan akan turut dengan kalian! dan keturunan kalian nanti yang akan memerintah saudara kalian dan orang lain. Tapi kalian harus ingat, nanti mereka akan memerintah dengan semena-mena. Akan ada pembalasan untuk semua itu. Silahkan pergi!

Kalian yang di sebelah barat! Carilah oleh kalian Ki Santang! Sebab nanti, keturunan kalian yang akan mengingatkan saudara kalian dan orang lain. Ke saudara sedaerah, ke saudara yang datang sependirian dan semua yang baik hatinya. Suatu saat nanti, apabila tengah malam, dari gunung Halimun terdengar suara minta tolong, nah itu adalah tandanya. Semua keturunan kalian dipanggil oleh yang mau menikah di Lebak Cawéné. Jangan sampai berlebihan, sebab nanti telaga akan banjir! Silahkan pergi! Ingat! Jangan menoleh kebelakang!

Kalian yang di sebelah utara! Dengarkan! Kota takkan pernah kalian datangi, yang kalian temui hanya padang yang perlu diolah. Keturunan kalian, kebanyakan akan menjadi rakyat biasa. Adapun yang menjadi penguasa tetap tidak mempunyai kekuasaan. Suatu hari nanti akan kedatangan tamu, banyak tamu dari jauh, tapi tamu yang menyusahkan. Waspadalah!

Semua keturunan kalian akan aku kunjungi, tapi hanya pada waktu tertentu dan saat diperlukan. Aku akan datang lagi, menolong yang perlu, membantu yang susah, tapi hanya mereka yang bagus perangainya. Apabila aku datang takkan terlihat; apabila aku berbicara takkan terdengar. Memang aku akan datang tapi hanya untuk mereka yang baik hatinya, mereka yang mengerti dan satu tujuan, yang mengerti tentang harum sejati juga mempunyai jalan pikiran yang lurus dan bagus tingkah lakunya. Ketika aku datang, tidak berupa dan bersuara tapi memberi ciri dengan wewangian. Semenjak hari ini, Pajajaran hilang dari alam nyata. Hilang kotanya, hilang negaranya. Pajajaran tidak akan meninggalkan jejak, selain nama untuk mereka yang berusaha menelusuri.

Sebab bukti yang ada akan banyak yang menolak! Tapi suatu saat akan ada yang mencoba, supaya yang hilang bisa diteemukan kembali. Bisa saja, hanya menelusurinya harus memakai dasar. Tapi yang menelusurinya banyak yang sok pintar dan sombong. dan bahkan berlebihan kalau bicara.

Suatu saat nanti akan banyak hal yang ditemui, sebagian-sebagian. Sebab terlanjur dilarang oleh Pemimpin Pengganti! Ada yang berani menelusuri terus menerus, tidak mengindahkan larangan, mencari sambil melawan, melawan sambil tertawa. Dialah Anak Gembala. Rumahnya di belakang sungai, pintunya setinggi batu, tertutupi pohon handeuleum dan hanjuang. Apa yang dia gembalakan? Bukan kerbau bukan domba, bukan pula harimau ataupun banteng. Tetapi ranting daun kering dan sisa potongan pohon. Dia terus mencari, mengumpulkan semua yang dia temui. Tapi akan menemui banyak sejarah/kejadian, selesai jaman yang satu datang lagi satu jaman yang jadi sejarah/kejadian baru, setiap jaman membuat sejarah. setiap waktu akan berulang itu dan itu lagi.

Dengarkan! yang saat ini memusuhi kita, akan berkuasa hanya untuk sementara waktu. Tanahnya kering padahal di pinggir sungai Cibantaeun dijadikan kandang kerbau kosong. Nah di situlah, sebuah nagara akan pecah, pecah oleh kerbau bule, yang digembalakan oleh orang yang tinggi dan memerintah di pusat kota. semenjak itu, raja-raja dibelenggu. Kerbau bule memegang kendali, dan keturunan kita hanya jadi orang suruhan. Tapi kendali itu tak terasa sebab semuanya serba dipenuhi dan murah serta banyak pilihan.

Semenjak itu, pekerjaan dikuasai monyet. Suatu saat nanti keturunan kita akan ada yang sadar, tapi sadar seperti terbangun dari mimpi. Dari yang hilang dulu semakin banyak yang terbongkar. Tapi banyak yang tertukar sejarahnya, banyak yang dicuri bahkan dijual! Keturunan kita banyak yang tidak tahu, bahwa jaman sudah berganti! Pada saat itu geger di seluruh negara. Pintu dihancurkan oleh mereka para pemimpin, tapi pemimpin yang salah arah!

Yang memerintah bersembunyi, pusat kota kosong, kerbau bule kabur. Negara pecahan diserbu monyet! Keturunan kita enak tertawa, tapi tertawa yang terpotong, sebab ternyata, pasar habis oleh penyakit, sawah habis oleh penyakit, tempat padi habis oleh penyakit, kebun habis oleh penyakit, perempuan hamil oleh penyakit. Semuanya diserbu oleh penyakit. Keturunan kita takut oleh segala yang berbau penyakit. Semua alat digunakan untuk menyembuhkan penyakit sebab sudah semakin parah. Yang mengerjakannya masih bangsa sendiri. Banyak yang mati kelaparan. Semenjak itu keturunan kita banyak yang berharap bisa bercocok tanam sambil sok tahu membuka lahan. mereka tidak sadar bahwa jaman sudah berganti cerita lagi.

Lalu sayup-sayup dari ujung laut utara terdengar gemuruh, burung menetaskan telur. Riuh seluruh bumi! Sementara di sini? Ramai oleh perang, saling menindas antar sesama. Penyakit bermunculan di sana-sini. Lalu keturunan kita mengamuk. Mengamuk tanpa aturan. Banyak yang mati tanpa dosa, jelas-jelas musuh dijadikan teman, yang jelas-jelas teman dijadikan musuh. Mendadak banyak pemimpin dengan caranya sendiri. Yang bingung semakin bingung. Banyak anak kecil sudah menjadi bapa. Yang mengamuk tambah berkuasa, mengamuk tanpa pandang bulu. Yang Putih dihancurkan, yang Hitam diusir. Kepulauan ini semakin kacau, sebab banyak yang mengamuk, tidak beda dengan tawon, hanya karena dirusak sarangnya. seluruh nusa dihancurkan dan dikejar. Tetapi…ada yang menghentikan, yang menghentikan adalah orang sebrang.

Lalu berdiri lagi penguasa yang berasal dari orang biasa. Tapi memang keturunan penguasa dahulu kala dan ibunya adalah seorang putri Pulau Dewata. Karena jelas keturunan penguasa, penguasa baru susah dianiaya! Semenjak itu berganti lagi jaman. Ganti jaman ganti cerita! Kapan? Tidak lama, setelah bulan muncul di siang hari, disusul oleh lewatnya komet yang terang benderang. Di bekas negara kita, berdiri lagi sebuah negara. Negara di dalam negara dan pemimpinnya bukan keturunan Pajajaran.

Lalu akan ada penguasa, tapi penguasa yang mendirikan benteng yang tidak boleh dibuka, yang mendirikan pintu yang tidak boleh ditutup, membuat pancuran ditengah jalan, memelihara elang dipohon beringin. Memang penguasa buta! Bukan buta pemaksa, tetapi buta tidak melihat, segala penyakit dan penderitaan, penjahat juga pencuri menggerogoti rakyat yang sudah susah. Sekalinya ada yang berani mengingatkan, yang diburu bukanlah penderitaan itu semua tetapi orang yang mengingatkannya. Semakin maju semakin banyak penguasa yang buta tuli. memerintah sambil menyembah berhala. Lalu anak-anak muda salah pergaulan, aturan hanya menjadi bahan omongan, karena yang membuatnya bukan orang yang mengerti aturan itu sendiri. Wajar saja bila kolam semuanya mengering, pertanian semuanya puso, bulir padi banyak yang diselewengkan, sebab yang berjanjinya banyak tukang bohong, semua diberangus janji-janji belaka, terlalu banyak orang pintar, tapi pintar kebelinger.

Pada saat itu datang pemuda berjanggut, datangnya memakai baju serba hitam sambil menyanding sarung tua. Membangunkan semua yang salah arah, mengingatkan pada yang lupa, tapi tidak dianggap. Karena pintar kebelinger, maunya menang sendiri. Mereka tidak sadar, langit sudah memerah, asap mengepul dari perapian. Alih-alih dianggap, pemuda berjanggut ditangkap dimasukan kepenjara. Lalu mereka mengacak-ngacak tanah orang lain, beralasan mencari musuh tapi sebenarnya mereka sengaja membuat permusuhan.

Waspadalah! sebab mereka nanti akan melarang untuk menceritakan Pajajaran. Sebab takut ketahuan, bahwa mereka yang jadi gara-gara selama ini. Penguasa yang buta, semakin hari semakin berkuasa melebihi kerbau bule, mereka tidak sadar jaman manusia sudah dikuasai oleh kelakuan hewan.

Kekuasaan penguasa buta tidak berlangsung lama, tapi karena sudah kelewatan menyengsarakan rakyat yang sudah berharap agar ada mukjizat datang untuk mereka. Penguasa itu akan menjadi tumbal, tumbal untuk perbuatannya sendiri, kapan waktunya? Nanti, saat munculnya anak gembala! di situ akan banyak huru-hara, yang bermula di satu daerah semakin lama semakin besar meluas di seluruh negara. yang tidak tahu menjadi gila dan ikut-ikutan menyerobot dan bertengkar. Dipimpin oleh pemuda gendut! Sebabnya bertengkar? Memperebutkan tanah. Yang sudah punya ingin lebih, yang berhak meminta bagiannya. Hanya yang sadar pada diam, mereka hanya menonton tapi tetap terbawa-bawa.

Yang bertengkar lalu terdiam dan sadar ternyata mereka memperebutkan pepesan kosong, sebab tanah sudah habis oleh mereka yang punya uang. Para penguasa lalu menyusup, yang bertengkar ketakutan, ketakutan kehilangan negara, lalu mereka mencari anak gembala, yang rumahnya di ujung sungai yang pintunya setinggi batu, yang rimbun oleh pohon handeuleum dan hanjuang. Semua mencari tumbal, tapi pemuda gembala sudah tidak ada, sudah pergi bersama pemuda berjanggut, pergi membuka lahan baru di Lebak Cawéné!

Yang ditemui hanya gagak yang berkoar di dahan mati. Dengarkan! jaman akan berganti lagi, tapi nanti, Setelah Gunung Gede meletus, disusul oleh tujuh gunung. Ribut lagi seluruh bumi. Orang sunda dipanggil-panggil, orang sunda memaafkan. Baik lagi semuanya. Negara bersatu kembali. Nusa jaya lagi, sebab berdiri ratu adil, ratu adil yang sejati.

Tapi ratu siapa? darimana asalnya sang ratu? Nanti juga kalian akan tahu. Sekarang, cari oleh kalian pemuda gembala.

Silahkan pergi, ingat jangan menoleh kebelakang!
1:04 AM | 3 comments | Read More

Federasi antara Kerajaan Sunda dan Galuh Pakuan

Written By Gpnkoe on Sunday, July 8, 2012 | 3:55 AM

Putera Tarusbawa yang terbesar, Rarkyan Sundasambawa, wafat saat masih muda, meninggalkan seorang anak perempuan, Nay Sekarkancana. Cucu Tarusbawa ini lantas dinikahi oleh Rahyang Sanjaya dari Galuh, sampai mempunyai seorang putera, Rahyang Tamperan.

Ibu dari Sanjaya adalah Sanaha, cucu Ratu Shima dari Kalingga di Jepara. Ayah dari Sanjaya adalah Bratasenawa/Sena/Sanna, Raja Galuh ketiga sekaligus teman dekat Tarusbawa. Sena adalah cucu Wretikandayun dari putera bungsunya, Mandiminyak, raja Galuh kedua (702-709 M). Sena pada tahun 716 M dikudeta dari tahta Galuh oleh Purbasora. Purbasora dan Sena sebenarnya adalah saudara satu ibu, tetapi lain ayah.

Sena dan keluarganya menyelamatkan diri ke Pakuan Pajajaran, pusat Kerajaan Sunda, dan meminta pertolongan pada Tarusbawa. Ironis sekali memang, Wretikandayun, kakek Sena, sebelumnya menuntut Tarusbawa untuk memisahkan Kerajaan Galuh dari Tarumanegara. Dikemudian hari, Sanjaya yang merupakan penerus Kerajaan Galuh yang sah, menyerang Galuh dengan bantuan Tarusbawa. Penyerangan ini bertujuan untuk melengserkan Purbasora.

Saat Tarusbawa meninggal (tahun 723), kekuasaan Sunda dan Galuh berada di tangan Sanjaya. Di tangan Sanjaya, Sunda dan Galuh bersatu kembali. Tahun 732, Sanjaya menyerahkan kekuasaan Sunda-Galuh kepada puteranya Rarkyan Panaraban (Tamperan). Di Kalingga Sanjaya memegang kekuasaan selama 22 tahun (732-754), yang kemudian diganti oleh puteranya dari Déwi Sudiwara, yaitu Rakai Panangkaran. Rarkyan Panaraban berkuasa di Sunda-Galuh selama tujuh tahun (732-739), lalu membagi kekuasaan pada dua puteranya; Sang Manarah (dalam carita rakyat disebut Ciung Wanara) di Galuh, serta Sang Banga (Hariang Banga) di Sunda.

Sang Banga (Prabhu Kertabhuwana Yasawiguna Hajimulya) menjadi raja selama 27 tahun (739-766), tetapi hanya menguasai Sunda dari tahun 759. Dari Déwi Kancanasari, keturunan Demunawan dari Saunggalah, Sang Banga mempunyai putera bernama Rarkyan Medang, yang kemudian meneruskan kekuasaanya di Sunda selama 17 tahun (766-783) dengan gelar Prabhu Hulukujang. Karena anaknya perempuan, Rakryan Medang mewariskan kekuasaanya kepada menantunya, Rakryan Hujungkulon atau Prabhu Gilingwesi dari Galuh, yang menguasai Sunda selama 12 tahun (783-795).

Karena Rakryan Hujungkulon inipun hanya mempunyai anak perempuan, maka kekuasaan Sunda lantas jatuh ke menantunya, Rakryan Diwus (dengan gelar Prabu Pucukbhumi Dharmeswara) yang berkuasa selama 24 tahun (795-819). Dari Rakryan Diwus, kekuasaan Sunda jatuh ke puteranya, Rakryan Wuwus, yang menikah dengan putera dari Sang Welengan (raja Galuh, 806-813). Kekuasaan Galuh juga jatuh kepadanya saat saudara iparnya, Sang Prabhu Linggabhumi (813-842), meninggal dunia. Kekuasaan Sunda-Galuh dipegang oleh Rakryan Wuwus (dengan gelar Prabhu Gajahkulon) sampai ia wafat tahun 891.

Sepeninggal Rakryan Wuwus, kekuasaan Sunda-Galuh jatuh ke adik iparnya dari Galuh, Arya Kadatwan. Hanya saja, karena tidak disukai oleh para pembesar dari Sunda, ia dibunuh tahun 895, sedangkan kekuasaannya diturunkan ke putranya, Rakryan Windusakti. Kekuasaan ini lantas diturunkan pada putera sulungnya, Rakryan Kamuninggading (913). Rakryan Kamuninggading menguasai Sunda-Galuh hanya tiga tahun, sebab kemudian direbut oleh adiknya, Rakryan Jayagiri (916). Rakryan Jayagiri berkuasa selama 28 tahun, kemudian diwariskan kepada menantunya, Rakryan Watuagung, tahun 942. Melanjutkan dendam orangtuanya, Rakryan Watuagung direbut kekuasaannya oleh keponakannya (putera Kamuninggading), Sang Limburkancana (954-964).

Dari Limburkancana, kekuasaan Sunda-Galuh diwariskan oleh putera sulungnya, Rakryan Sundasambawa (964-973). Karena tidak mempunyai putera dari Sundasambawa, kekuasaan tersebut jatuh ke adik iparnya, Rakryan Jayagiri (973-989). Rakryan Jayagiri mewariskan kekuasaannya ka puteranya, Rakryan Gendang (989-1012), dilanjutkan oleh cucunya, Prabhu Déwasanghyang (1012-1019). Dari Déwasanghyang, kekuasaan diwariskan kepada puteranya, lalu ke cucunya yang membuat prasasti Cibadak, Sri Jayabhupati (1030-1042). Sri Jayabhupati adalah menantu dari Dharmawangsa Teguh dari Jawa Timur, mertua raja Airlangga (1019-1042).

Dari Sri Jayabhupati, kekuasaan diwariskan kepada putranya, Dharmaraja (1042-1064), lalu ke cucu menantunya, Prabhu Langlangbhumi ((1064-1154). Prabu Langlangbhumi dilanjutkan oleh putranya, Rakryan Jayagiri (1154-1156), lantas oleh cucunya, Prabhu Dharmakusuma (1156-1175). Dari Prabu Dharmakusuma, kekuasaan Sunda-Galuh diwariskan kepada putranya, Prabhu Guru Dharmasiksa, yang memerintah selama 122 tahun (1175-1297). Dharmasiksa memimpin Sunda-Galuh dari Saunggalah selama 12 tahun, tapi kemudian memindahkan pusat pemerintahan kepada Pakuan Pajajaran, kembali lagi ke tempat awal moyangnya (Tarusbawa) memimpin kerajaan Sunda.

Sepeninggal Dharmasiksa, kekuasaan Sunda-Galuh turun ke putranya yang terbesar, Rakryan Saunggalah (Prabhu Ragasuci), yang berkuasa selama enam tahun (1297-1303). Prabhu Ragasuci kemudian diganti oleh putranya, Prabhu Citraganda, yang berkuasa selama delapan tahun (1303-1311), kemudian oleh keturunannya lagi, Prabu Linggadéwata (1311-1333). Karena hanya mempunyai anak perempuan, Linggadéwata menurunkan kekuasaannya ke menantunya, Prabu Ajiguna Linggawisésa (1333-1340), kemudian ke Prabu Ragamulya Luhurprabawa (1340-1350). Dari Prabu Ragamulya, kekuasaan diwariskan ke putranya, Prabu Maharaja Linggabuanawisésa (1350-1357), yang di ujung kekuasaannya gugur saat Perang Bubat. Karena saat kejadian di Bubat, putranya -- Niskalawastukancana -- masih kecil, kekuasaan Sunda sementara dipegang oleh Patih Mangkubumi Sang Prabu Bunisora (1357-1371).

Sapeninggal Prabu Bunisora, kekuasaan kembali lagi ke putra Linggabuana, Niskalawastukancana, yang kemudian memimpin selama 104 tahun (1371-1475). Dari isteri pertama, Nay Ratna Sarkati, ia mempunyai putera Sang Haliwungan (Prabu Susuktunggal), yang diberi kekuasaan bawahan di daerah sebelah barat Citarum (daerah asal Sunda). Prabu Susuktunggal yang berkuasa dari Pakuan Pajajaran, membangun pusat pemerintahan ini dengan mendirikan keraton Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati. Pemerintahannya terbilang lama (1382-1482), sebab sudah dimulai saat ayahnya masih berkuasa di daerah timur. Dari Nay Ratna Mayangsari, istrinya yang kedua, ia mempunyai putera Ningratkancana (Prabu Déwaniskala), yang meneruskan kekuasaan ayahnya di daerah Galuh (1475-1482).

Susuktunggal dan Ningratkancana menyatukan ahli warisnya dengan menikahkan Jayadéwata (putra Ningratkancana) dengan Ambetkasih (putra Susuktunggal). Tahun 1482, kekuasaan Sunda dan Galuh disatukan lagi oleh Jayadéwata, yang bergelar Sri Baduga Maharaja. Sapeninggal Jayadéwata, kekuasaan Sunda-Galuh turun ke putranya, Prabu Surawisésa (1521-1535), kemudian Prabu Déwatabuanawisésa (1535-1543), Prabu Sakti (1543-1551), Prabu Nilakéndra (1551-1567), serta Prabu Ragamulya atau Prabu Suryakancana (1567-1579). Prabu Suryakancana ini merupakan pemimpin kerajaan Sunda-Galuh yang terakhir, sebab setelah beberapa kali diserang oleh pasukan Maulana Yusuf dari Kesultanan Banten, mengakibatkan kekuasaan Prabu Surya Kancana dan Kerajaan Pajajaran runtuh.
3:55 AM | 0 comments | Read More

Sejarah Kerajaan Pakuan Padjadjaran

Pakuan Pajajaran atau Pakuan (Pakwan) atau Pajajaran adalah pusat pemerintahan Kerajaan Sunda, sebuah kerajaan yang selama beberapa abad (abad ke-7 hingga abad ke-16) pernah berdiri di wilayah barat pulau Jawa. Lokasi Pakuan Pajajaran berada di wilayah Bogor, Jawa Barat sekarang.

KERAJAAN PADJADJARAN 
Kerajaan Pajajaran adalah sebuah kerajaan Hindu yang diperkirakanberibukotanya di Pakuan (Bogor) di Jawa Barat. Dalam naskah-naskah kunonusantara, kerajaan ini sering pula disebut dengan nama Negeri Sunda,Pasundan, atau berdasarkan nama ibukotanya yaitu Pakuan Pajajaran.Beberapa catatan menyebutkan bahwa kerajaan ini didirikan tahun 923oleh Sri Jayabhupati, seperti yang disebutkan dalam prasasti SanghyangTapak.

Sejarah

Sejarah kerajaan ini tidak dapat terlepas dari kerajaan-kerajaanpendahulunya di daerah Jawa Barat, yaitu Kerajaan Tarumanagara,Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh, dan Kawali. Hal ini karenapemerintahan Kerajaan Pajajaran merupakan kelanjutan dari kerajaan-kerajaan tersebut. Dari catatan-catatan sejarah yang ada, dapatlahditelusuri jejak kerajaan ini; antara lain mengenai ibukota Pajajaran yaituPakuan. Mengenai raja-raja Kerajaan Pajajaran, terdapat perbedaan urutanantara naskah-naskah Babad Pajajaran, Carita Parahiangan, dan CaritabWaruga Guru.

Selain naskah-naskah babad, Kerajaan Pajajaran juga meninggalkansejumlah jejak peninggalan dari masa lalu, seperti:Prasasti Batu Tulis, Bogor Prasasti 

Batutulis Prasasti Batutulis terletak di jalan Batutulis, Kelurahan Batutulis,Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor. 

Kompleks Prasasti Batutulis memiliki luas 17 x 15 meter. Batu Prasasti dan benda-benda lainpeninggalan kerajaan Sunda terdapat dalam komplek ini. Pada batu ini berukir kalimat-kalimat dengan huruf Sunda Kuno.

Isi Prasasti: Wangna pun ini sakakala, prebu ratu purane pun,diwastu diya wingaran prebu guru dewatapranadi wastu diya wingaran sri baduga maharaja ratu hajj di pakwan pajajaranseri sang ratu dewatapun ya nu nyusuk na pakwandiva anak rahyang dewa niskala sa(ng) sida mokta dimguna tiga i(n) curahyang niskala-niskala wastu ka(n) cana sa(ng) sida mokta ka nusalarangya siya ni nyiyan sakakala gugunungan ngabalay nyiyan samida, nyiyanlsa(ng)h yang talaga rena mahawijaya, ya siya, o o i saka, panca pandawae(m) ban bumi

Terjemahan Terjemahan bebasnya kira-kira seperti ini : Semoga selamat, ini tanda peringatan Prabu Ratu almarhum Dinobatkan dia dengan nama Prabu Guru Dewataprana,dinobatkan (lagi) dia dengan nama Sri Baduga Maharaja Ratu Aji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata.

Dialah yang membuat parit (pertahanan) Pakuan.Dia putera Rahiyang Dewa Niskala yang dipusarakan di Gunatiga, cucuRahiyang Niskala Wastu Kancana yang dipusarakan ke Nusa Larang.

Dialah yang membuat tanda peringatan berupa gunung-gunungan,membuat undakan untuk hutan Samida membuat Sahiyang Telaga RenaMahawijaya (dibuat) dalam (tahun) Saka "Panca Pandawa Mengemban Bumi" 

Catatan kaki^ Lokasi hutan samida ini konon yang sekarang dipakai sebagai KebunRaya Bogor.^ Ini adalah sangkala yang artinya adalah 5 5 4 1 atau kalau dibalik adalah1455 Saka (1533 Masehi)Prasasti Sanghyang Tapak, SukabumiPrasasti Kawali, CiamisPrasasti Astana GedePrasasti Astana Gede atau Prasasti Kawali merujuk pada beberapa prasastiyang ditemukan di kawasan Kabuyutan Kawali, kabupaten Ciamis, JawaBarat, terutama pada prasasti "utama" yang bertulisan paling banyak (Prasasti Kawali I). 

Adapun secara keseluruhan, terdapat enam prasasti.Kesemua prasasti ini menggunakan bahasa dan aksara Sunda (Kaganga).Meskipun tidak berisi candrasangkala, prasasti ini diperkirakan berasal dariparuh kedua abad ke-14 berdasarkan nama raja.Berdasarkan perbandingan dengan peninggalan sejarah lainnya sepertinaskah Carita Parahyangan dan Pustaka Rajya Rajya di Bhumi Nusantara,dapat disimpulkan bahwa Prasasti Kawali I ini merupakan sakakala atautugu peringatan untuk mengenang kejayaan Prabu Niskala Wastu Kancana,penguasa Sunda yang bertahta di Kawali, putra Prabu Linggabuana yanggugur di Bubat.

Isi teks Teks di bagian muka: 

nihan tapa kawa-li nu sang hyang mulia tapa bha-gya par ĕbu raja wastumangad ĕg di kuta ka-wali nu mahayuna kadatuansura wisesa nu marigi sa-kuliling dayĕh. nu najur sakaladesa aja manu panderi pak ĕnagawe ring hayu pak ĕn hebel jaya dina buana

Teks di bagian tepi tebal: hayua diponah-ponah hayua dicawuh-cawuhinya neker inya anggerinya ninycak inya rempag 

Alihbahasa Teks di bagian muka:
Inilah jejak (tapak) (di) Kawali (dari) tapa beliau Yang Mulia Prabu RajaWastu (yang) mendirikan pertahanan (bertahta di) Kawali, yang telahmemperindah kedaton Surawisesa, yang membuat parit pertahanan disekeliling wilayah kerajaan, yang memakmurkan seluruh pemukiman.

Kepada yang akan datang, hendaknya menerapkan keselamatan sebagailandasan kemenangan hidup di dunia.Teks di bagian tepi tebal: Jangan dimusnahkan! Jangang semena-mena!Ia dihormati, ia tetap.Ia menginjak, ia roboh.Tugu Perjanjian Portugis (padraõ), Kampung Tugu, JakartaTaman perburuan, yang sekarang menjadi Kebun Raya Bogor.

Daftar raja Pajajaran
Sri Baduga Maharaja (1482 – 1521) Sri Baduga Maharaja
Sri Baduga Maharaja (Ratu Jayadewata) mengawali pemerintahan zamanPajajaran, yang memerintah selama 39 tahun (1482-1521). 

Pada masa inilah Pakuan mencapai puncak perkembangannya.Dalam prasasti Batutulis diberitakan bahwa Sri Baduga dinobatkan duakali, yaitu yang pertama ketika Jayadewata menerima Galuh dari ayahnya(Prabu Dewa Niskala) yang kemudian bergelar Prabu Guru Dewapranata. Yang kedua ketika ia menerima Tahta Kerajaan Sunda dari mertuanya,Susuktunggal. Dengan peristiwa ini, ia menjadi penguasa Sunda-Galuh dandinobatkan dengar gelar Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan PajajaranSri Sang Ratu Dewata. Jadi sekali lagi dan untuk terakhir kalinya, setelah"sepi" selama 149 tahun, Jawa Barat kembali menyaksikan iring-iringanrombongan raja yang berpindah tempat dari timur ke barat. Untuk menuliskan situasi kepindahan keluarga kerajaan dapat dilihat pada Pindahnya Ratu Pajajaran

1 Prabu Siliwangi
2 Biografi
2.1 Masa muda
2.2 Perang Bubat
3 Kebijakan Sri Baduga dan Kehidupan Sosial
4 Peristiwa-peristiwa di masa pemerintahannya
4.1 Carita Parahiyangan
4.2 Pustaka Nagara Kretabhumi parwa I sarga 2.

Prabu Siliwangi

Di Jawa Barat Sri Baduga ini lebih dikenal dengan nama Prabu Siliwangi.Nama Siliwangi sudah tercatat dalam Kropak 630 sebagai lakon pantun.Naskah itu ditulis tahun 1518 ketika Sri Baduga masih hidup. Lakon PrabuSiliwangi dalam berbagai versinya berintikan kisah tokoh ini menjadi raja diPakuan. 

Peristiwa itu dari segi sejarah berarti saat Sri Baduga mempunyaikekuasaan yang sama besarnya dengan Wastu Kancana (kakeknya) aliasPrabu Wangi (menurut pandangan para pujangga Sunda).Menurut tradisi lama. orang segan atau tidak boleh menyebut gelar rajayang sesungguhnya, maka juru pantun mempopulerkan sebutan Siliwangi.

Dengan nama itulah ia dikenal dalam literatur Sunda. Wangsakerta punmengungkapkan bahwa Siliwangi bukan nama pribadi, ia menulis:"Kawalya ta wwang Sunda lawan ika wwang Carbon mwang sakweh irawwang Jawa Kulwan anyebuta Prabhu Siliwangi raja Pajajaran. 

Dadyekadudu ngaran swaraga nira".Indonesia: Hanya orang Sunda dan orang Cirebon serta semua orang JawaBarat yang menyebut Prabu Siliwangi raja Pajajaran. Jadi nama itu bukannama pribadinya.BiografiMasa mudaWaktu mudanya Sri Baduga terkenal sebagai kesatria pemberani dantangkas bahkan satu-satunya yang pernah mengalahkan Ratu Japura (Amuk Murugul) waktu bersaing memperbutkan Subanglarang (istri kedua PrabuSiliwangi yang beragama Islam). 

Dalam berbagai hal, orang sejamannyateringat kepada kebesaran mendiang buyutnya (Prabu Maharaja LinggaBuana) yang gugur di Bubat yang digelari Prabu Wangi.Tentang hal itu, Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara II/2 mengungkapkanbahwa orang Sunda menganggap Sri Baduga sebagai pengganti PrabuWangi, sebagai silih yang telah hilang. Naskahnya berisi sebagai berikut(artinya saja):"Di medan perang Bubat ia banyak membinasakan musuhnya karena Prabu Maharaja sangat menguasai ilmu senjata dan mahir berperang, tidak maunegaranya diperintah dan dijajah orang lain.Ia berani menghadapi pasukan besar Majapahit yang dipimpin oleh sangPatih Gajah Mada yang jumlahnya tidak terhitung. 

Oleh karena itu, iabersama semua pengiringnya gugur tidak tersisa.Ia senantiasa mengharapkan kemakmuran dan kesejahteraan hiduprakyatnya di seluruh bumi Jawa Barat. Kemashurannya sampai kepadabeberapa negara di pulau-pulau Dwipantara atau Nusantara namanya yanglain. Kemashuran Sang Prabu Maharaja membangkitkan (rasa banggakepada) keluarga, menteri-menteri kerajaan, angkatan perang dan rakyat Jawa Barat. 

Oleh karena itu nama Prabu Maharaja mewangi. Selanjutnya iadi sebut Prabu Wangi. Dan keturunannya lalu disebut dengan nama PrabuSiliwangi. Demikianlah menurut penuturan orang Sunda".Perang BubatKesenjangan antara pendapat orang Sunda dengan kenyataan sejarahseperti yang diungkapkan di atas mudah dijajagi. Pangeran Wangsakerta,

penanggung jawab penyusunan Sejarah Nusantara, menganggap bahwatokoh Prabu Wangi adalah Maharaja Linggabuana yang gugur di Bubat,sedangkan penggantinya ("silih"nya) bukan Sri Baduga melainkan WastuKancana (kakek Sri Baduga, yang menurut naskah Wastu Kancana disebut juga Prabu Wangisutah).

Nah, orang Sunda tidak memperhatikan perbedaan ini sehinggamenganggap Prabu Siliwangi sebagai putera Wastu Kancana (PrabuAnggalarang). Tetapi dalam Carita Parahiyangan disebutkan bahwa NiskalaWastu Kancana itu adalah "seuweu" Prabu Wangi. Mengapa Dewa Niskala(ayah Sri Baduga) dilewat? Ini disebabkan Dewa Niskala hanya menjadipenguasa Galuh. 

Dalam hubungan ini tokoh Sri Baduga memang penerus"langsung" dari Wastu Kancana. Menurut Pustaka Rajyarajya I BhumiNusantara II/4, ayah dan mertua Sri Baduga (Dewa Niskala danSusuktunggal) hanya bergelar Prabu, sedangkan Jayadewata bergelarMaharaja (sama seperti kakeknya Wastu Kancana sebagai penguasa Sunda-Galuh).

Dengan demikian, seperti diutarakan Amir Sutaarga (1965), Sri Baduga itudianggap sebagai "silih" (pengganti) Prabu Wangi Wastu Kancana (olehPangeran Wangsakerta disebut Prabu Wangisutah). "Silih" dalampengertian kekuasaan ini oleh para pujangga babad yang kemudianditanggapi sebagai pergantian generasi langsung dari ayah kepada anak sehingga Prabu Siliwangi dianggap putera Wastu Kancana.Kebijakan Sri Baduga dan Kehidupan SosialTindakan pertama yang diambil oleh Sri Baduga setelah resmi dinobatkan jadi raja adalah menunaikan amanat dari kakeknya (Wastu Kancana) yangdisampaikan melalui ayahnya (Ningrat Kancana) ketika ia masih menjadi mangkubumi di Kawali. 

Isi pesan ini bisa ditemukan pada salah satuprasasti peninggalan Sri Baduga di Kebantenan.
Isinya sebagai berikut(artinya saja):

Semoga selamat. Ini tanda peringatan bagi Rahyang Niskala WastuKancana. Turun kepada Rahyang Ningrat Kancana, maka selanjutnya kepada Susuhunan sekarang di Pakuan Pajajaran. 

Harus menitipkan ibukotadi Jayagiri dan ibukota di Sunda Sembawa.Semoga ada yang mengurusnya.
Jangan memberatkannya dengan "dasa","calagra", "kapas timbang", dan "pare dongdang".Maka diperintahkan kepada para petugas muara agar jangan memungutbea. 

Karena merekalah yang selalu berbakti dan membaktikan diri kepadaajaran-ajaran. Merekalah yang tegas mengamalkan peraturan dewa.Dengan tegas di sini disebut "dayeuhan" (ibukota) di Jayagiri dan SundaS embawa. 

Penduduk kedua dayeuh ini dibebaskan dari 4 macam pajak,yaitu "dasa" (pajak tenaga perorangan), "calagra" (pajak tenaga kolektif),"kapas timbang" (kapas 10 pikul) dan "pare dondang" (padi 1 gotongan).Dalam kropak 630, urutan pajak tersebut adalah dasa, calagra, "upeti","panggeureus reuma".

Dalam koropak 406 disebutkan bahwa dari daerah Kandang Wesi (sekarangBungbulang, Garut) harus membawa "kapas sapuluh carangka" (10carangka = 10 pikul = 1 timbang atau menurut Coolsma, 1 caeng timbang)sebagai upeti ke Pakuan tiap tahun. Kapas termasuk upeti. Jadi tidak dikenakan kepada rakyat secara perorangan, melainkan kepada penguasasetempat."Pare dondang" disebut "panggeres reuma". Panggeres adalah hasil lebihatau hasil cuma-cuma tanpa usaha. 

Reuma adalah bekas ladang. Jadi, padiyang tumbuh terlambat (turiang) di bekas ladang setelah dipanen dankemudian ditinggalkan karena petani membuka ladang baru, menjadi hak raja atau penguasa setempat (tohaan). 

Dongdang adalah alat pikul seperti"tempat tidur" persegi empat yang diberi tali atau tangkai berlubang untuk memasukan pikulan. 

Dondang harus selalu digotong. Karena bertali ataubertangkai, waktu digotong selalu berayun sehingga disebut "dondang"(berayun). 

Dondang pun khusus dipakai untuk membawa barang antaranpada selamatan atau arak-arakan. Oleh karena itu, "pare dongdang" atau"penggeres reuma" ini lebih bersifat barang antaran.Pajak yang benar-benar hanyalah pajak tenaga dalam bentuk "dasa" dan"calagra" (Di Majapahit disebut "walaghara = pasukan kerja bakti). 

Tugas-tugas yang harus dilaksanakan untuk kepentingan raja diantaranya :menangkap ikan, berburu, memelihara saluran air (ngikis), bekerja diladang atau di "serang ageung" (ladang kerajaan yang hasil padinya diperuntukkan bagi upacara resmi).

Dalam kropak 630 disebutkan "wwang tani bakti di wado" (petani tunduk kepada wado). Wado atau wadwa ialah prajurit kerajaan yang memimpincalagara. Sistem dasa dan calagara ini terus berlanjut setelah jamankerajaan. Belanda yang di negaranya tidak mengenal sistem semacam inimemanfaatkanna untuk "rodi". 

Bentuk dasa diubah menjadi"Heerendiensten" (bekerja di tanah milik penguasa atau pembesar).Calagara diubah menjadi "Algemeenediensten" (dinas umum) atau"Campongdiesnten" (dinas Kampung) yang menyangkut kepentinganumum, seperti pemeliharaan saluran air, jalan, rumah jada dan keamanan. Jenis pertama dilakukan tanpa imbalan apa-apa, sedangkan jenis keduadilakuan dengan imbalan dan makan. "Preangerstelsel" dan"Cultuurstelsel" yang keduanya berupa sistem tanam paksa memanfaatkantradisi pajak tenaga ini.Dalam akhir abad ke-19 bentuknya berubah menjadi "lakon gawe" danberlaku untuk tingkat desa. Karena bersifat pajak, ada sangsi untuk mereka yang melalaikannya. 

Dari sinilah orang Sunda mempunyai peribahasa "puraga tamba kadengda" (bekerja sekedar untuk menghindarihukuman atau dendaan). Bentuk dasa pada dasarnya tetap berlangsung. Didesa ada kewajiban "gebagan" yaitu bekerja di sawah bengkok dan titingkat kabupaten bekerja untuk menggarap tanah para pembesarsetempat. Jadi "gotong royong tradisional berupa bekerja untuk kepentingan umumatas perintah kepala desa", menurut sejarahnya bukanlah gotong royong.Memang tradisional, tetapi ide dasarnya adalah pajak dalam bentuk tenaga. Dalam Pustaka Jawadwipa disebut karyabhakti dan sudah dikenalpada masa Tarumanagara dalam abad ke-5.

Piagam-piagam Sri Baduga lainnya berupa "piteket" karena langsungmerupakan perintahnya. Isinya tidak hanya pembebasan pajak tetapi jugapenetapan batas-batas "kabuyutan" di Sunda Sembawa dan GunungSamaya yang dinyatakan sebagai "lurah kwikuan" yang disebut juga desaperdikan, desa bebas pajak.Gelar "Sripaduka" ( Sri Baduga ) pada zaman Pajajaran Nagara disandangoleh 3 tokoh : 

  1. Wastukancana / Rd. Pitara Wangisuta / SRI PADUKAMAHARAJA PRABU GURU DEWATA PURANA RATU HAJI DI PAKUAN PAJAJARANSANG RATU KARANTEN ( KARA ANTEN ) RAKEYAN LAYARAN WANGI /SUNANRUMENGGONG (RAMA HYANG AGUNG ) adik dari Dyah Pitaloka Citraresmianak dari Rd. Kalagemet /Jayanagara II / Raja Sundayana di Galuh /RatuGaluh di Panjalu / Maharaja Prabu Wangi dan merangkap Wali NagariHujung Galuh ( Majapahit-Pajajaran Wetan / Jawa Pawatan / Galuh - menjadiwali sang kakak Linggabuana/Jayanagara I/Maharaja Prabu Diwastu ayahdari Hayam Wuruk /Hyang Warok /Rd. Inu Kertapati /Susuk Tunggal/Prabumulih /Prabu Seda Keling /Sang Haliwungan /Pangeran BorosNgora/Ra- Hyang Kancana )gugur pada "PERANG BUBAT" dalampertempuran yang tidak "FAIR" atas "REKAYASA" Gajah Mada / Guan Eng Cudan Nangganan /Ki Ageng Muntalarasa /Syekh BEN TONG!!!!,dengan caradibokong dan di keroyok !!!. 
  2. Mundinglayadikusumah / Rd. Samadullah SurawisesaMundinglayadikusumah/SRI PADUKA MAHARAJA PRABU GURU GANTANGANSANG SRI JAYA DEWATA /KEBO KENONGO /ARYA KUMETIR /RD.KUMETIR /KIAGENG PAMANAH RASA / SUNAN PAGULINGAN anak dari LINGGA HYANG /LINGGA WESI / HYANG BUNI SWARA /SRI SANGGRAMAWIJAYATUGGAWARMAN /MAHAPATI ANAPAKEN ( MENAK PAKUAN )/ RD. H. PURWAANDAYANINGRAT / SUNAN GIRI /HYANG TWAH / BATARA GURUNISKALAWASTU DI JAMPANG.
  3. MUNDINGWANGI/ SRI PADUKA MAHARAJA PRABU GURU DEWATAPRANASANG PRABU GURU RATU DEWATA anak dari Wastukancana.Rakeyan MundinglayaSILIWANGI I Rd. Samadullah Surawisesa Mundinglayadikusumah Sri PadukaMaharaja Prabu Guru Gantangan Sang Sri Jaya Dewata / Ki Ageng PamanahRasa / Sunan Pagulingan / Kebo Kenongo / Rd. Kumetir / Layang KumetirRakeyan MundingwangiSILIWANGI II Rd.Salalangu Layakusumah Sri Paduka Maharaja Prabu GuruDewata Prana Sang Prabu Guru Ratu Dewata / Kebo Anabrang ?Rakeyan Mundingsari /MundingkawatiSILIWANGI III Tumenggung Cakrabuana Wangsa Gopa Prana Sang PrabuWalangsungsang Dalem Martasinga Syekh Rachmat Syarif HidayatullahSunan Gunung Jati I Ki Ageng Pamanahan / Kebo Mundaran ?

Peristiwa-peristiwa di masa pemerintahannya
Beberapa peristiwa menurut sumber-sumber sejarah:
Carita Parahiyangan 

Dalam sumber sejarah ini, pemerintahan Sri Baduga dilukiskan demikian :"Purbatisi purbajati, mana mo kadatangan ku musuh ganal musuh alit. 

Sukakreta tang lor kidul kulon wetan kena kreta rasa. Tan kreta ja lakibi dinaurang reya, ja loba di sanghiyang siksa".(Ajaran dari leluhur dijunjung tinggi sehingga tidak akan kedatanganmusuh, baik berupa laskar maupun penyakit batin. 

Senang sejahtera diutara, barat dan timur. Yang tidak merasa sejahtera hanyalah rumah tanggaorang banyak yang serakah akan ajaran agama).

Dari Naskah ini dapat diketahui, bahwa pada saat itu telah banyak RakyatPajajaran yang beralih agama (Islam) dengan meninggalkan agama lama.

RAKEYAN MUNDINGSARI/MUNDINGKAWATI/TUMENGGUNG CAKRABUWANAWANGSA GOPA PRANA SANG PRABU WALANGSUNGSANG/DALEMMARTASINGA /SYEKH RACHMAT SYARIF HIDAYATULLAH SUNAN GUNUNG JATII /KEBO ANABRANG ? SILIWANGI III /SUNAN RACHMAT adalah anak dariHyang Warok / Susuk Tunggal /Sang Haliwungan Pustaka Nagara Kretabhumi parwa 

Naskah ini menceritakan, bahwa pada tanggal 12 bagian terang bulanCaitra tahun 1404 Saka, Syarif Hidayat menghentikan pengiriman upetiyang seharusnya di bawa setiap tahun ke Pakuan Pajajaran. [Syarif Hidayat masih cucu Sri Baduga dari Lara Santang]. Ia dijadikan raja oleh uanya(Pangeran Cakrabuana) dan menjadi raja merdeka di Pajajaran di Bumi Sunda (Jawa Barat)]Ketika itu Sri Baduga baru saja menempati istana Sang Bhima (sebelumnyadi Surawisesa). 

Kemudian diberitakan, bahwa pasukan Angkatan Laut Demak yang kuat berada di Pelabuhan Cirebon untuk menjagakemungkinan datangnya serangan Pajajaran.Tumenggung Jagabaya beserta 60 anggota pasukannya yang dikirimkandari Pakuan ke Cirebon, tidak mengetahui kehadiran pasukan Demak disana. Jagabaya tak berdaya menghadapi pasukan gabungan Cirebon-Demak yang jumlahnya sangat besar. Setelah berunding, akhirnya Jagabayamenghamba dan masuk Islam.

Peristiwa itu membangkitkan kemarahan Sri Baduga. Pasukan besar segeradisiapkan untuk menyerang Cirebon. Akan tetapi pengiriman pasukan itudapat dicegah oleh Purohita (pendeta tertinggi) keraton Ki Purwa Galih.[Cirebon adalah daerah warisan Cakrabuana (Walangsungsang) darimertuanya (Ki Danusela) dan daerah sekitarnya diwarisi dari kakeknya KiGedeng Tapa (Ayah Subanglarang).

Cakrabuana sendiri dinobatkan oleh Sri Baduga (sebelum menjadiSusuhunan) sebagai penguasa Cirebon dengan gelar Sri Mangana. KarenaSyarif Hidayat dinobatkan oleh Cakrabuana dan juga masih cucu SriBaduga, maka alasan pembatalan penyerangan itu bisa diterima olehpenguasa Pajajaran.

Demikianlah situasi yang dihadapi Sri Baduga pada awal masapemerintahannya. Dapat dimaklumi kenapa ia mencurahkan perhatiankepada pembinaan agama, pembuatan parit pertahanan, memperkuatangkatan perang, membuat jalan dan menyusun PAGELARAN (formasitempur). 

Pajajaran adalah negara yang kuat di darat, tetapi lemah di laut.Menurut sumber Portugis, di seluruh kerajaan, Pajajaran memiliki kira-kira 100.000 prajurit. Raja sendiri memiliki pasukan gajah sebanyak 40 ekor. Dilaut, Pajajaran hanya memiliki enam buah Kapal Jung 150 ton untuk kepentingan perdagangan antar-pulaunya (saat it perdagangan kuda jenis Pariaman mencapai 4000 ekor/tahun.
Keadaan makin tegang ketika hubungan Demak-Cirebon makin dikukuhkandengan perkawinan putera-puteri dari kedua belah pihak. 

Ada empat pasangan yang dijodohkan, yaitu : Pangeran Hasanudin dengan Ratu Ayu Kirana (Purnamasidi).Ratu Ayu dengan Pangeran Sabrang Lor.Pangeran Jayakelana dengan Ratu Pembayun.Pangeran Bratakelana dengan Ratu Ayu Wulan (Ratu Nyawa).

Perkawinan Pangeran Sabrang Lor alias Yunus Abdul Kadir dengan Ratu Ayu terjadi 1511. Sebagai Senapati Sarjawala, panglima angkatan laut,Kerajaan Demak, Sabrang Lor untuk sementara berada di Cirebon.Persekutuan Cirebon-Demak inilah yang sangat mencemaskan Sri Badugadi Pakuan. Tahun 1512, ia mengutus putera mahkota Surawisesamenghubungi Panglima Portugis Alfonso d'Albuquerque di Malaka (ketikaitu baru saja gagal merebut Pelabuhan Pasai atau Samudra Pasai).
Sebaliknya upaya Pajajaran ini telah pula meresahkan pihak Demak.Pangeran Cakrabuana dan Susuhunan Jati (Syarif Hidayat) tetapmenghormati Sri Baduga karena masing-masing sebagai ayah dan kakek.Oleh karena itu permusuhan antara Pajajaran dengan Cirebon tidak berkembang ke arah ketegangan yang melumpuhkan sektor-sektorpemerintahan. 

Sri Baduga hanya tidak senang hubungan Cirebon-Demak yang terlalu akrab, bukan terhadap Kerajaan Cirebon. Terhadap Islam, iasendiri tidak membencinya karena salah seorang permaisurinya,Subanglarang, adalah seorang muslimah dan ketiga anaknya --Walangsungsang alias Cakrabuana, Lara Santang, dan Raja Sangara --diizinkan sejak kecil mengikuti agama ibunya (Islam).Karena permusuhan tidak berlanjut ke arah pertumpahan darah, makamasing masing pihak dapat mengembangkan keadaan dalam negerinya.Demikianlah pemerintahan Sri Baduga dilukiskan sebagai jamankesejahteraan (Carita Parahiyangan). 

Tome Pires ikut mencatat kemajuan jaman Sri Baduga dengan komentar "The Kingdom of Sunda is justlygoverned; they are true men" (Kerajaan Sunda diperintah dengan adil;mereka adalah orang-orang jujur).

Juga diberitakan kegiatan perdagangan Sunda dengan Malaka sampai kekepulauan Maladewa (Maladiven). Jumlah merica bisa mencapai 1000 bahar(1 bahar = 3 pikul) setahun, bahkan hasil tammarin (asem) dikatakannyacukup untuk mengisi muatan 1000 kapal.Naskah Kitab Waruga Jagat dari Sumedang dan Pancakaki Masalah karuhunKabeh dari Ciamis yang ditulis dalam abad ke-18 dalam bahasa Jawa danhuruf Arab-pegon masih menyebut masa pemerintahan Sri Baduga inidengan masa gemuh Pakuan (kemakmuran Pakuan) sehingga tak mengherankan bila hanya Sri Baduga yang kemudian diabadikankebesarannya oleh raja penggantinya dalam jaman Pajajaran.

Sri Baduga Maharaja alias Prabu Siliwangi yang dalam Prasasti Tembaga Kebantenan disebut Susuhuna di Pakuan Pajajaran, memerintah selama 39tahun (1482 - 1521). Ia disebut secara anumerta Sang Lumahing (SangMokteng) Rancamaya karena ia dipusarakan di Rancamaya.

Surawisesa (1521 – 1535)
Ratu Dewata (1535 – 1543)
Ratu Sakti (1543 – 1551)
Raga Mulya (1567 – 1579)

KeruntuhanKerajaan Pajajaran runtuh pada tahun 1579 akibat serangan kerajaanSunda lainnya, yaitu Kesultanan Banten. 

Berakhirnya jaman Pajajaranditandai dengan diboyongnya Palangka Sriman Sriwacana (singgahsanaraja), dari Pakuan ke Surasowan di Banten oleh pasukan Maulana Yusuf.Batu berukuran 200x160x20 cm itu diboyong ke Banten karena tradisipolitik agar di Pakuan tidak mungkin lagi dinobatkan raja baru, danmenandakan Maulana Yusuf adalah penerus kekuasaan Pajajaran yang sahkarena buyut perempuannya adalah puteri Sri Baduga Maharaja. 

Palangka Sriman Sriwacana tersebut saat ini bisa ditemukan di depan bekas KeratonSurasowan di Banten. Orang Banten menyebutnya Watu Gigilang, berarti mengkilap atau berseri, sama artinya dengan kata Sriman.Saat itu diperkirakan terdapat sejumlah punggawa istana yangmeninggalkan kraton lalu menetap di daerah Lebak. Mereka menerapkantata cara kehidupan lama yang ketat, dan sekarang mereka dikenal sebagai orang Baduy.
3:45 AM | 0 comments | Read More

Kerajaan Pajajaran

Written By Gpnkoe on Thursday, March 3, 2011 | 9:08 AM

Kerajaan Pajajaran adalah nama lain dari Kerajaan Sunda saat kerajaan ini beribukota di kota Pajajaran atau Pakuan Pajajaran (Bogor) di Jawa Barat. Kata Pakuan sendiri berasal dari kata Pakuwuan yang berarti kota. Pada masa lalu, di Asia Tenggara ada kebiasaan menyebut nama kerajaan dengan nama ibu kotanya. Beberapa catatan menyebutkan bahwa kerajaan ini didirikan tahun 923 oleh Sri Jayabhupati, seperti yang disebutkan dalam Prasasti Sanghyang Tapak.
Dari catatan-catatan sejarah yang ada, baik dari prasasti, naskah kuno, maupun catatan bangsa asing, dapatlah ditelusuri jejak kerajaan ini; antara lain mengenai wilayah kerajaan dan ibukota Pakuan Pajajaran. Mengenai raja-raja Kerajaan Sunda yang memerintah dari ibukota Pakuan Pajajaran, terdapat perbedaan urutan antara naskah-naskah Babad Pajajaran, Carita Parahiangan, dan Carita Waruga Guru.
Selain naskah-naskah babad, Kerajaan Pajajaran juga meninggalkan sejumlah jejak peninggalan dari masa lalu, seperti:
·               Prasasti Batu Tulis, Bogor
·               Prasasti Sanghyang Tapak, Sukabumi
·               Prasasti Kawali, Ciamis
·               Tugu Perjanjian Portugis (padraõ), Kampung Tugu, Jakarta
·               Taman perburuan, yang sekarang menjadi Kebun Raya Bogor.
Daftar raja Pajajaran
1.          Sri Baduga Maharaja (1482 – 1521), bertahta di Pakuan (Bogor sekarang)
2.          Surawisesa (1521 – 1535), bertahta di Pakuan
3.          Ratu Dewata (1535 – 1543), bertahta di Pakuan
4.          Ratu Sakti (1543 – 1551), bertahta di Pakuan
5.          Ratu Nilakendra (1551-1567), meninggalkan Pakuan karena serangan Hasanudin dan anaknya, Maulana Yusuf
6.          Raga Mulya (1567 – 1579), dikenal sebagai Prabu Surya Kencana, memerintah dari Pandeglang
Kerajaan Pajajaran runtuh pada tahun 1579 akibat serangan kerajaan Sunda lainnya, yaitu Kesultanan Banten. Berakhirnya zaman Pajajaran ditandai dengan diboyongnya Palangka Sriman Sriwacana (singgahsana raja), dari Pakuan Pajajaran ke Keraton Surosowan di Banten oleh pasukan Maulana Yusuf.
Batu berukuran 200x160x20 cm itu diboyong ke Banten karena tradisi politik agar di Pakuan Pajajaran tidak mungkin lagi dinobatkan raja baru, dan menandakan Maulana Yusuf adalah penerus kekuasaan Sunda yang sah karena buyut perempuannya adalah puteri Sri Baduga Maharaja. Palangka Sriman Sriwacana tersebut saat ini bisa ditemukan di depan bekas Keraton Surosowan di Banten. Masyarakat Banten menyebutnya Watu Gilang, berarti mengkilap atau berseri, sama artinya dengan kata Sriman.
Saat itu diperkirakan terdapat sejumlah punggawa istana yang meninggalkan istana lalu menetap di daerah Lebak. Mereka menerapkan tata cara kehidupan mandala yang ketat, dan sekarang mereka dikenal sebagai orang Baduy
Kerajaan Sunda Galuh Pakuan
Kerajaan Sunda (669-1579 M), menurut naskah Wangsakerta merupakan kerajaan yang berdiri menggantikan kerajaan Tarumanagara. Kerajaan Sunda didirikan oleh Tarusbawa pada tahun 591 Saka Sunda (669 M). Menurut sumber sejarah primer yang berasal dari abad ke-16, kerajaan ini merupakan suatu kerajaan yang meliputi wilayah yang sekarang menjadi Provinsi Banten, Jakarta, Provinsi Jawa Barat , dan bagian barat Provinsi Jawa Tengah.
Berdasarkan naskah kuno primer Bujangga Manik (yang menceriterakan perjalanan Bujangga Manik, seorang pendeta Hindu Sunda yang mengunjungi tempat-tempat suci agama Hindu di Pulau Jawa dan Bali pada awal abad ke-16), yang saat ini disimpan pada Perpustakaan Boedlian, Oxford University, Inggris sejak tahun 1627), batas Kerajaan Sunda di sebelah timur adalah Ci Pamali ("Sungai Pamali", sekarang disebut sebagai Kali Brebes) dan Ci Serayu (yang saat ini disebut Kali Serayu) di Provinsi Jawa Tengah.
Menurut Naskah Wangsakerta, wilayah Kerajaan Sunda mencakup juga daerah yang saat ini menjadi Provinsi Lampung melalui pernikahan antara keluarga Kerajaan Sunda dan Lampung. Lampung dipisahkan dari bagian lain kerajaan Sunda oleh Selat Sunda.More
9:08 AM | 0 comments | Read More